SUKU TOKOTU'A? Lexical Similarity Bahasa Moronene & Bahasa Kabaena
“SUKU TOKOTU’A”
LEXICAL
SIMILARITY (LEKSIKOSTATISTIK) BAHASA MORONENE DAN BAHASA KABAENA DALAM STUDI
TENTANG SUKU TOKOTU’A DI PULAU KABAENA
SULAWESI TENGGARA
download file lengkap format pdf disini
Pusat Studi Kabaena Centre
2026
RINGKASAN EKSEKUTIF
|
P |
ulau Kabaena merupakan salah satu wilayah multietnis di Sulawesi Tenggara yang dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya dan bahasa yang beragam. Salah satu komunitas penting di pulau ini adalah Suku Tokotu’a yang secara historis memiliki hubungan erat dengan etnis Moronene. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kemiripan leksikal (lexical similarity) antara Bahasa Moronene dan Bahasa Kabaena menggunakan metode leksikostatistik guna memahami hubungan linguistik, dan proses interaksi budaya yang terjadi di Pulau Kabaena. Kajian ini didasarkan pada asumsi bahwa tingkat kesamaan kosakata dasar dapat menggambarkan kedekatan historis antarbahasa apakah merupakan dialek sebagai variasi bahasa atau hanya merupakan keluarga (family) dan rumpun dari bahasa yang berbeda sekaligus memberikan gambaran mengenai proses migrasi, kontak budaya, dan perkembangan masyarakat penuturnya.
Fokus kajian diarahkan pada masyarakat Suku Tokotu’a di Pulau Kabaena yang secara historis dan budaya dikaitkan dengan masyarakat Moronene. Berbagai kajian etnografi dan budaya menunjukkan bahwa komunitas Tokotu’a mempertahankan identitas budaya tersendiri yang kuat seperti bentuk kerajaan, seni budaya, rumah adat, pakaian tradisional dan bahasa meskipun telah lama berinteraksi dengan kelompok etnis lain di Pulau Kabaena. Kajian menggunakan metode leksikostatistik dengan membandingkan daftar kosakata dasar (Swadesh) kedua bahasa. Setiap pasangan kosakata dianalisis untuk menentukan apakah termasuk kognat (kata kerabat) atau bukan kognat. Persentase kognat kemudian dihitung untuk mengukur tingkat kesamaan leksikal kedua bahasa, disertai analisis terhadap korespondensi bunyi yang muncul secara teratur.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Bahasa Moronene dan Bahasa Kabaena memiliki tingkat kesamaan leksikal 62.75%, tercermin dari beberapa pasangan kata yang masih mempertahankan bentuk fonologis dan makna yang serupa. Di sisi lain, 37.25% ditemukan sejumlah berbedaan dari inovasi leksikal, perubahan bunyi, serta pengaruh kontak Bahasa yang menyebabkan sebagian kosakata mengalami divergensi. Pola perubahan tersebut berlangsung secara sistematis namun tetap menunjukkan adanya hubungan genealogis berasal dalam satu keluarga bahasa (family) yang sama. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Bahasa Moronene dan Bahasa Kabaena adalah bahasa berbeda yang telah berkembang secara mandiri akibat pemisahan geografis, interaksi sosial, serta dinamika budaya masyarakat penuturnya namun berasal dari satu keluarga bahasa yang sama. Hasil ini menegaskan bahwa Bahasa Moronene dan Bahasa Kabaena mengalami perkembangan yang berbeda setelah berpisah dari bahasa proto yang sama.
Selain memberikan kontribusi terhadap kajian linguistik historis-komparatif di Sulawesi Tenggara, hasil ini memiliki nilai strategis bagi upaya pelestarian bahasa daerah. Dokumentasi hubungan leksikal kedua bahasa dapat menjadi dasar penyusunan kamus dwibahasa, bahan ajar muatan lokal, pemetaan bahasa daerah, serta upaya revitalisasi bahasa yang mulai mengalami penurunan jumlah penutur. Secara keseluruhan, kajian ini menunjukkan bahwa pendekatan leksikostatistik merupakan metode yang efektif untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan bahasa, merekonstruksi sejarah perkembangan bahasa, serta memperkuat pemahaman mengenai identitas linguistik dan budaya masyarakat Tokotu’a di Pulau Kabaena. Hasil kajian ini diharapkan menjadi referensi bagi penelitian lanjutan dalam bidang linguistik historis, antropologi, dan pelestarian bahasa daerah khususnya bahasa kabaena di Indonesia.
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
|
P |
ulau
Kabaena yang terletak di Kabupaten Bombana, jazirah Sulawesi Tenggara,
merupakan kawasan yang memiliki kekayaan budaya dan keragaman etnolinguistik
yang tinggi. Berbagai kelompok masyarakat mendiami pulau ini, termasuk
masyarakat Kabaena terdiri dari suku Tokotu’a, Bajo, Buton, Muna, Bugis,
Selayar dan kelompok pendatang lainnya. Bahasa merupakan salah satu unsur
budaya yang penting dalam memahami sejarah suatu masyarakat. Hubungan antara
bahasa dan identitas etnis sering kali mencerminkan pola migrasi, perdagangan,
perkawinan antarkelompok, serta proses asimilasi budaya yang berlangsung selama
berabad-abad.
Proyeksi Penutur Bahasa Berdasarkan Jumlah Penduduk Per Kabupaten di Sultra
Sumber : Data Jumlah Penduduk
BPS Sultra 2026
Bahasa Moronene digunakan terutama di wilayah daratan Bombana (Wita Ea), sedangkan Bahasa Kabaena digunakan secara luas oleh masyarakat yang menetap di pulau Kabaena (Tokotu’a). Kedua bahasa tersebut secara genealogis termasuk ke dalam kelompok celebic rumpun bahasa Austronesia, memiliki hubungan kekerabatan dengan beberapa bahasa lain di Sulawesi seperti Bahasa Kabaena, Mekongga, Bungku, Mori, Padoe, Wawoni’i, Kulisusu.
Proyeksi Penutur Bahasa Berdasarkan Jumlah Penduduk di Kabupaten Bombana
Sumber : Data Jumlah Penduduk BPS Bombana 2026
Keberadaan Suku Tokotu’a di Kabaena menimbulkan pertanyaan mengenai tingkat hubungan linguistik antara bahasa Moronene dan bahasa Kabaena apakah merupakan dialek atau bahasa yang berbeda. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan pendekatan ilmiah yang mampu mengukur tingkat kedekatan bahasa secara kuantitatif. Salah satu metode yang umum digunakan adalah teknik lexical similarity atau leksikostatistik. Kajian kekerabatan bahasa yang dilakukan melalui pendekatan leksikostatistik adalah metode yang menghitung persentase kosakata dasar yang memiliki hubungan kognat untuk menentukan tingkat kedekatan historis antar bahasa.
Berdasarkan penelitian yang sejenis dari Syahruddin Kaseng, dkk. (1987) tentang Pemetaan Bahasa-Bahasa di Sulawesi Tenggara oleh Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari persentase persamaan atau persesuaian kata-kata dasar (basic vocabulary) antara bahasa moronene – bahasa kabaena adalah 67.5% hal ini menunjukkan kedua bahasa memiliki hubungan keluarga bahasa (family) namun masih merupakan bahasa yang berbeda. Penelitian David Mead (1999) dalam The Bungku-Tolaki languages of South-Eastern Sulawesi Indonesia dari table lexycostatistic matrix yang ditunjukkan antara bahasa moronene – kabaena adalah 80% dianggap sebagai dialek bahasa yang sama namun ditemukan bahwa dari analisis fonologis dan makna untuk daftar kata yang disajikan persentase kognat 68.14% justru menunjukkan tingkat kekerabatan dari bahasa yang berbeda bukan hanya variasi bahasa atau disebut dialek.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
tingkat kemiripan leksikal antara Bahasa Moronene dan Bahasa Kabaena?
2. Apakah
terdapat hubungan kekerabatan linguistik yang signifikan antara kedua bahasa?
3. Apa
implikasi hubungan linguistik tersebut terhadap sejarah Suku Tokotu’a di Pulau
Kabaena?
1.3 Tujuan
Penelitian
1. Menghitung
tingkat kemiripan leksikal antara Bahasa Moronene dan Bahasa Kabaena.
2. Mengidentifikasi
tingkat kekerabatan (cognate) pada kedua bahasa.
3. Menjelaskan
hubungan linguistik dan historis masyarakat Tokotu’a di Kabaena.
1.4
Manfaat Penelitian
Manfaat
Akademik
·
Menambah kajian linguistik daerah Sulawesi Tenggara.
·
Menjadi referensi penelitian linguistik
historis-komparatif.
Manfaat
Praktis
·
Mendukung pelestarian bahasa daerah.
·
Menjadi dasar penguatan identitas budaya masyarakat adat
Tokotu’a.
Tari Lumense Kabaena di Istana Negara HUT-RI ke-77 Tahun 2022
PUSTAKA
2.1
Moronene
Suku Moronene
|
S |
uku Moronene adalah salah satu
suku asli di Provinsi Sulawesi Tenggara. Pusat persebaran masyarakat Moronene
berada di daratan utama Bombana (mainland), khususnya wilayah Rumbia,
Poleang, dan kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Berbagai kajian
sejarah dan tradisi lisan, Moronene dianggap sebagai salah satu penduduk paling
awal di Sulawesi Tenggara. Nama "Moronene" sering dijelaskan berasal
dari kata moro (serupa) dan nene (tumbuhan resam), tumbuhan yang
banyak ditemukan di daerah lembah dan tepian sungai tempat masyarakat Moronene
dahulu bermukim.
Bahasa Moronene
Bahasa Moronene merupakan bagian
dari identitas budaya Suku Moronene. dituturkan oleh masyarakat adat Moronene,
termasuk komunitas adat yang berada di sekitar Taman Nasional Rawa Aopa
Watumohai. Bahasa Moronene merupakan bahasa Austronesia yang
dituturkan di Bombana. Bahasa ini termasuk dalam kelompok Celebic rumpun bahasa Austronesia dan memiliki
dialek utama Wita Ea. Hasil penghitungan lexical similarity dari beberapa
penelitian menunjukkan bahwa isolek Moronene merupakan sebuah bahasa tersendiri
dengan persentase kesamaan leksikal berkisar 65%—68% (David Mead, 1999) dan 43%—52%
(Syahruddin Kaseng dkk, 1987), jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya
di Sulawesi Tenggara, khususnya untuk bahasa Tolaki, Kulisusu dan Wawoni’i.
2.2 Tokotu’a
Suku Tokotu’a
Suku Tokotu’a merupakan salah satu
kelompok masyarakat lokal yang mendiami wilayah di Pulau Kabaena (kabaena
island). Dalam tradisi lisan masyarakat, Tokotu’a sering disebut sebagai
kelompok masyarakat tua atau penduduk awal yang telah lama bermukim di kawasan
pedalaman pulau tersebut. Beberapa
tradisi lokal menggambarkan Tokotu’a sebagai kelompok yang hidup di daerah
pegunungan dan hutan pedalaman sebelum berkembangnya permukiman pesisir dan
masuknya pengaruh kerajaan di Sulawesi Tenggara.
Bahasa
Kabaena
Bahasa Kabaena
merupakan bahasa utama di Pulau Kabaena dan menjadi identitas linguistik
masyarakat setempat. Jumlah penutur diperkirakan sekitar 25.000 jiwa. Bahasa
ini juga termasuk dalam kelompok Celebic rumpun bahasa Austronesia dan
memiliki beberapa variasi dialek antara lain tangkeno, rahadopi, langkema,
tedubara, lengora, enano, balo. Bahasa
Kabaena, dan varietas tutur Tokotu’a menjadi penting untuk memahami sejarah
migrasi dan hubungan antarkelompok masyarakat di kawasan tersebut. Hasil
penghitungan lexical similarity penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa isolek Kabaena
merupakan sebuah bahasa dengan persentase kesamaan leksikal antara 64%—66%
(David Mead, 1999) dan 37%—49% (Syahruddin Kaseng dkk, 1987), jika dibandingkan
bahasa yang sama di Sulawesi Tenggara yaitu Tolaki, Kulisusu dan Wawoni’i.
2.3
Leksikostatistik
Leksikostatistik
merupakan teknik kuantitatif yang diperkenalkan oleh Morris Swadesh untuk
mengukur hubungan kekerabatan bahasa melalui perbandingan kosakata dasar yang
relatif stabil terhadap perubahan budaya.
Rumus yang digunakan:
P = (K/N) × 100%
Keterangan:
P = Persentase kemiripan leksikal
K = Jumlah kata kerabat (Kognat)
N = Jumlah
Total Kosakata Dasar
Interpretasi
Tingkat hubungan :
·
81–100% = Dialek
bahasa yang sama
·
61–80% = Satu
keluarga bahasa
·
36–60% = Satu
rumpun bahasa
·
12–35% = Hubungan
jauh
·
0–11% = Tidak
berkerabat
|
METODOLOGI |
3.1 Jenis Kajian
|
A |
nalisis
kajian menggunakan metode deskriptif-komparatif dengan pendekatan linguistik sinkronis
yang mendeskripsikan
sistem bahasa sebagaimana digunakan oleh penutur pada masa penelitian
berlangsung.
3.2 Sumber
Data
Data
diperoleh dari:
1. Daftar
Swadesh kata dasar.
2. Literatur
linguistik Sulawesi Tenggara.
3. Hasil
penelitian sinkronis Bahasa Moronene dan Bahasa Kabaena.
3.3 Teknik
Analisis
Tahapan
analisis meliputi:
1. Pengumpulan
kosakata dasar.
2. Identifikasi
kata kognat (kesamaan bentuk & makna).
3. Penetapan
kognat (berkerabat) jika menunjukkan kemiripan fonologis (suara) & makna yg
jelas.
4. Penghitungan
persentase kesamaan leksikal.
5. Analisis
korespondensi bunyi.
6. Interpretasi
hubungan kekerabatan.
PEMBAHASAN
4.1
Perbandingan Kosakata
|
P |
engumpulan
kosakata dasar swadesh terdiri dari kata ganti, hubungan kekeluargaan, angka,
anggota tubuh, binatang, tumbuhan, makanan dan minuman, rumah dan bagiannya,
aktivitas, karakteristik dan kondisi, warna, waktu, arah, objek, peralatan dan unsur
alam yang tidak mudah berubah. Berikut data kosakata dasar yang dibandingkan:
Tabel Similarity Kosakata Dasar Swadesh
|
No |
Kata Dasar |
Tokotua |
Moronene |
Status |
|
Table 1: human
being and the relationship |
||||
|
1 |
Orang |
Miano |
Miano |
Kognat |
|
2 |
Laki – laki |
Tama |
Tama |
Kognat |
|
3 |
Perempuan |
Tina |
Tina |
Kognat |
|
4 |
Suami |
Salako |
Rapi/sampora |
Bukan kognat |
|
5 |
Isteri |
Tinamtua |
Rapi/sampora |
Bukan kognat |
|
6 |
Bapak |
Tamotua |
Tamotua |
Kognat |
|
7 |
Ibu |
Ina |
Ina |
Kognat |
|
8 |
Anak |
Ana ate |
Ana |
Bukan kognat |
|
9 |
Nama |
Nee |
Nee |
Kognat |
|
10 |
Siapa |
Nai |
Nai |
Kognat |
|
11 |
Anak sulung |
Anamperiou |
Datetukaka |
Bukan kognat |
|
12 |
Anak bungsu |
Anantetuai |
Datetuai |
Bukan kognat |
|
13 |
Paman |
Tama'ate |
Topisa |
Bukan kognat |
|
14 |
Bibi |
Tina'ate |
Topisa |
Bukan kognat |
|
15 |
Budak |
Sarapi |
Ata/sangkina |
Bukan kognat |
|
16 |
Tamu |
Mianoleu |
Toka |
Bukan kognat |
|
Table 2: possessive pronoun |
||||
|
17 |
Saya |
Aku |
Iaku |
Bukan kognat |
|
18 |
Kamu (tunggal) |
Co'o |
Co'o |
Kognat |
|
19 |
Dia/ia |
Iaa |
Iaa |
Kognat |
|
20 |
Kami |
Cami |
Icami |
Bukan kognat |
|
21 |
Kita |
Cita |
Icita |
Bukan kognat |
|
22 |
Kamu (jamak) |
Co'o |
Co'o |
Kognat |
|
23 |
Mereka |
Ira |
Iira |
Bukan kognat |
|
Table 3: part of human body |
||||
|
24 |
Tangan |
Lima |
Lima |
Kognat |
|
25 |
Kaki |
Karu |
Karu |
Kognat |
|
26 |
Kulit |
Kuli |
Baula |
Bukan kognat |
|
27 |
Punggung |
Padabose |
Bungku |
Bukan kognat |
|
28 |
Perut |
Tia |
Tia |
Kognat |
|
29 |
Tulang |
Wuku |
Wuku |
Kognat |
|
30 |
Usus |
Kompo |
Tariti |
Bukan kognat |
|
31 |
Hati |
Ate |
Ate |
Kognat |
|
32 |
Susu |
Susu |
Susu |
Kognat |
|
33 |
Bahu |
Mala |
Mala |
Kognat |
|
34 |
Darah |
Rea |
Rea |
Kognat |
|
35 |
Kepala |
Rapa |
Rapa |
Kognat |
|
36 |
Leher |
Ve'u |
Palasa |
Bukan kognat |
|
37 |
Rambut |
Wuu |
Wuu |
Kognat |
|
38 |
Hidung |
Enge |
Enge |
Kognat |
|
39 |
Mulut |
Nganga |
Nganga |
Kognat |
|
40 |
Gigi |
Ngisi |
Ngisi |
Kognat |
|
41 |
Lidah |
Elo |
Elo |
Kognat |
|
42 |
Telinga |
Biri |
Biri |
Kognat |
|
43 |
Mata |
Mata |
Mata |
Kognat |
|
44 |
Daging |
Ihi |
Ihi |
Kognat |
|
45 |
Muka/wajah |
Tapura'i |
Ra'i |
Bukan kognat |
|
46 |
Kuku |
Kuku |
Tovongkuku |
Bukan kognat |
|
47 |
Tinju |
Bosi |
Busu |
Bukan kognat |
|
Table 4:
animals |
||||
|
48 |
Anjing |
Dahu |
Dahu |
Kognat |
|
49 |
Tikus |
Ntewita |
Vola |
Bukan kognat |
|
50 |
Ular |
Langedo |
Ule |
Bukan kognat |
|
51 |
Cacing |
Ntolo-ntolo |
Ntolo-ntolo |
Kognat |
|
52 |
Kutu |
Kutu |
Kutu |
Kognat |
|
53 |
Nyamuk |
Wontu |
Wontu |
Kognat |
|
54 |
Laba-laba |
Horongkangka |
Horongkangka |
Kognat |
|
55 |
Ikan |
Ica |
Ica |
Kognat |
|
56 |
Burung |
Kadadi |
Kamanumanu |
Bukan kognat |
|
57 |
Telur |
Bio |
Bio |
Kognat |
|
58 |
Sayap |
Pani |
Pani |
Kognat |
|
59 |
Bulu |
Wulu |
Wulu |
Kognat |
|
60 |
Terbang |
Lumaa |
Lumaa |
Kognat |
|
61 |
Ekor |
Iki |
Iki |
Kognat |
|
62 |
Kelelawar |
Koea |
Mori |
Bukan kognat |
|
Table 5: plants |
||||
|
63 |
Kayu |
Keu |
Keu |
Kognat |
|
64 |
Rumput |
Evo |
Evo |
Kognat |
|
65 |
Daun |
Riri |
Riri |
Kognat |
|
66 |
Akar |
Haka |
Haka |
Kognat |
|
67 |
Bunga |
Wulele |
Wulele |
Kognat |
|
68 |
Buah |
Wua |
Wua |
Kognat |
|
69 |
Tanam |
Tamo |
Tamo |
Kognat |
|
70 |
Pohon |
Pu'ungkeu |
Pu'u |
Bukan kognat |
|
71 |
Tempurung |
So'owi |
Towo |
Bukan kognat |
|
72 |
Sirih |
Ribite |
Bite |
Bukan kognat |
|
73 |
Pandan |
Enano |
Tole |
Bukan kognat |
|
74 |
Padi |
Kinaa |
Pae |
Bukan kognat |
|
75 |
Bibit (padi) |
Inii |
Palango |
Bukan kognat |
|
Table 6: food
and beverages |
||||
|
76 |
Menanak |
Moagori |
Moagori |
Kognat |
|
77 |
Makan |
Mongkaa |
Mongkaa |
Kognat |
|
78 |
Minum |
Mondou |
Mondou |
Kognat |
|
79 |
Gigit |
Mekea |
Mekea |
Kognat |
|
80 |
Menghisap |
Oso'o |
Oso'o |
Kognat |
|
81 |
Muntah |
Komelu-melu |
Komelu-melu |
Kognat |
|
82 |
Nasi |
Ntakina |
Kinaa |
Bukan kognat |
|
Table 7: house
and its parts |
||||
|
83 |
Rumah |
Laica |
Raha |
Kognat |
|
84 |
Atap |
Ba'o |
Ba'o |
Kognat |
|
85 |
Toilet |
Pisaaka |
Kantete |
Kognat |
|
Table 8:
object,appliance and nature |
||||
|
86 |
Jalanan |
Bolonsala |
Tinutu |
Bukan kognat |
|
87 |
Jarum |
Seu |
Seu |
Kognat |
|
88 |
Tali |
Niwoti |
Ula |
Bukan kognat |
|
89 |
Debu |
Wita bubu |
Awu |
Bukan kognat |
|
90 |
Abu |
Awu |
Awu |
Kognat |
|
91 |
Api |
Api |
Api |
Kognat |
|
92 |
Asap |
Ahu |
Ahu |
Kognat |
|
93 |
Garam |
Gara |
Gara |
Kognat |
|
94 |
Tanah |
Wita |
Wita |
Kognat |
|
95 |
Batu |
Watu |
Watu |
Kognat |
|
96 |
Pasir |
One |
Hahi |
Bukan kognat |
|
97 |
Air |
E'e |
E'e |
Kognat |
|
98 |
Laut |
Tahi |
Tahi |
Kognat |
|
99 |
Sungai |
Lakambula |
Laa e'e |
Bukan kognat |
|
100 |
Hujan |
Usa |
Usa |
Kognat |
|
101 |
Minyak |
Mina |
Mina |
Kognat |
|
102 |
Lemak |
Taba |
Taba |
Kognat |
|
103 |
Ludah |
Uniu |
Uniu |
Kognat |
|
104 |
Hutan |
Rarongkeu |
Inalahi |
Bukan kognat |
|
105 |
Langit |
Langi |
Langi |
Kognat |
|
106 |
Awan |
Seru/gabu |
Ta'ilangi |
Bukan kognat |
|
107 |
Kabut |
Ngalu |
Galapu |
Bukan kognat |
|
108 |
Bulan |
Lamoa |
Wulaa |
Bukan kognat |
|
109 |
Bintang |
Olimpopo |
Olimpopo |
Kognat |
|
110 |
Kilat |
Kila |
Kila |
Kognat |
|
111 |
Guntur |
Berese |
Berese |
Kognat |
|
112 |
Angin |
Bara |
Bara |
Kognat |
|
113 |
Matahari |
Oleo |
Mata oleo |
Bukan kognat |
|
114 |
Awan |
Seru/gabu |
Ta'ilangi |
Bukan kognat |
|
115 |
Pisau |
Piso |
Taa'ate |
Bukan kognat |
|
116 |
Jeluang (baju kulit) |
Bida |
Nilangku |
Bukan kognat |
|
Table 9: deed
and work |
||||
|
117 |
Berjalan |
Lolako |
Molako |
Bukan kognat |
|
118 |
Datang |
Leu |
Leu |
Kognat |
|
119 |
Renang |
Nonangi |
Nonangi |
Kognat |
|
120 |
Pikir |
Mepikiri |
Mepikiri |
Kognat |
|
121 |
Nafas |
Penaa |
Penaa |
Kognat |
|
122 |
Nyawa |
Penaa |
Penaa |
Kognat |
|
123 |
Cium |
Uma |
Uma |
Kognat |
|
124 |
Tawa |
Keke |
Keke |
Kognat |
|
125 |
Tangis |
Bebera |
Bebera |
Kognat |
|
126 |
Dengar |
Moronge |
Modeaho |
Bukan kognat |
|
127 |
Lihat |
Ontoo |
Ontoo |
Kognat |
|
128 |
Mengantuk |
Mokotundu |
Mokokotundu |
Bukan kognat |
|
129 |
Tidur |
Moturi |
Moturi |
Kognat |
|
130 |
Berbaring |
Bobale |
Leleha |
Bukan kognat |
|
131 |
Mimpi |
Moipi |
Moipi |
Kognat |
|
132 |
Duduk |
Totoro |
Totoro |
Kognat |
|
133 |
Berdiri |
Mentade |
Mentade |
Kognat |
|
134 |
Berkata |
Koawawa |
Koawawa |
Kognat |
|
135 |
Menjahit |
Monsorumba |
Moseu |
Bukan kognat |
|
136 |
Berburu |
Melampu |
Dumahu |
Bukan kognat |
|
137 |
Menembak |
Montemba |
Montemba |
Kognat |
|
138 |
Menikam |
Tobo'o |
Tobo'o |
Kognat |
|
139 |
Memukul |
Mowangku |
Mowangku |
Kognat |
|
140 |
Mencuri |
Menonako |
Menonako |
Kognat |
|
141 |
Membunuh |
Mompopate |
Mompopate |
Kognat |
|
142 |
Menggaruk |
Mekekeo |
Mekekeo |
Kognat |
|
143 |
Memotong |
Monkolo |
Monkolo |
Kognat |
|
144 |
Membelah |
Mowo'a |
Mowo'a |
Kognat |
|
145 |
Bekerja |
Mohedo |
Mohedo |
Kognat |
|
146 |
Memilih |
Mompili |
Mompili |
Kognat |
|
147 |
Memeras |
Mompio |
Mompio |
Kognat |
|
148 |
Memegang |
Ungkario |
Ungkario |
Kognat |
|
149 |
Menggali |
Mongkekei |
Mongkekei |
Kognat |
|
150 |
Membeli |
Mo'oli |
Mo'oli |
Kognat |
|
151 |
Membuka |
Buka'o |
Lolahi |
Bukan kognat |
|
152 |
Menumbuk |
Mo'isa |
Mo'isa |
Kognat |
|
153 |
Lempar |
Pando |
Panse |
Kognat |
|
154 |
Meniup |
Mepupu |
Mepupu |
Kognat |
|
155 |
Membakar |
Mohuni |
Mohuni |
Kognat |
|
156 |
Bersembunyi |
Mewuni |
Mewuni |
Kognat |
|
157 |
Ikat |
Koko'o |
Koko'o |
Kognat |
|
158 |
Menyanyi |
Menani |
Melagu |
Bukan kognat |
|
159 |
Menagis |
Bebera |
Mewowo |
Bukan kognat |
|
160 |
Tertawa |
Keke |
Mototaa |
Bukan kognat |
|
161 |
Mendengar |
Podeaho |
Mompodea |
Bukan kognat |
|
162 |
Melihat |
Ontoo |
Mo'onto |
Bukan kognat |
|
163 |
Memberi |
Mowehi |
Mompowehi |
Bukan kognat |
|
164 |
Meludah |
Meoniu |
Me'ili |
Bukan kognat |
|
165 |
Muntah |
Komelu-melu |
Molua |
Bukan kognat |
|
166 |
Bangun |
Tepobangu |
Tepombula |
Bukan kognat |
|
167 |
Membangunkan |
Tinsuo |
Tuba'o |
Bukan kognat |
|
168 |
Gendong |
Kokopu |
Kekepi |
Bukan kognat |
|
169 |
Urut |
Andu |
Saula |
Bukan kognat |
|
170 |
Cerita |
Tutula |
Tutura |
Bukan kognat |
|
171 |
Bohong |
Kuleti |
Kulepi |
Bukan kognat |
|
172 |
Ganti |
Boli'i |
Tuka |
Bukan kognat |
|
173 |
Angkat |
Angkatako |
Tarako |
Bukan kognat |
|
174 |
Asah |
Moasa |
Molaha |
Bukan kognat |
|
175 |
Berpisah |
Tepobia |
Teposinca |
Bukan kognat |
|
Table 10:
characteristics and condition |
||||
|
176 |
Kotor |
Wereke |
Wereke |
Kognat |
|
177 |
Tahu |
To'orio |
To'orio |
Kognat |
|
178 |
Takut |
Momee |
Momee |
Kognat |
|
179 |
Mati |
Mohule |
Mohule |
Kognat |
|
180 |
Hidup |
Tora |
Tora |
Kognat |
|
181 |
Tajam |
Mongkaso |
Mongkaso |
Kognat |
|
182 |
Tumpul |
Tendeke |
Tendeke |
Kognat |
|
183 |
Jatuh |
Tuuna |
Tuuna |
Kognat |
|
184 |
Busuk |
Tewuha |
Tewuha |
Kognat |
|
185 |
Alir |
Lolonto |
Lolonto |
Kognat |
|
186 |
Panas |
Mokula |
Mokula |
Kognat |
|
187 |
Dingin |
Momapa |
Morini |
Bukan kognat |
|
188 |
Kering |
Motu'i |
Motu'i |
Kognat |
|
189 |
Basah |
Mosele |
Mosele |
Kognat |
|
190 |
Berat |
Mobea |
Mobea |
Kognat |
|
191 |
Dekat |
Okuda |
Okuda |
Kognat |
|
192 |
Jauh |
Mentala |
Mentala |
Kognat |
|
193 |
Kecil |
Okidi |
Okidi |
Kognat |
|
194 |
Besar |
Owose |
Owose |
Kognat |
|
195 |
Pendek |
Owawa |
Okuda |
Bukan kognat |
|
196 |
Panjang |
Mentaa |
Mentaa |
Kognat |
|
197 |
Tipis |
Monipi |
Monipi |
Kognat |
|
198 |
Tebal |
Mongkapa |
Mongkapa |
Kognat |
|
199 |
Sempit |
Mogimpi |
Mogimpi |
Kognat |
|
200 |
Lebar |
Molue |
Molue |
Kognat |
|
201 |
Malu |
Me'a |
Me'a |
Kognat |
|
202 |
Tua |
Motua |
Motua |
Kognat |
|
203 |
Baru |
Tonia |
Tonia |
Kognat |
|
204 |
Baik |
Moico |
Moico |
Kognat |
|
205 |
Jahat |
Mosao |
Mosoko |
Bukan kognat |
|
206 |
Benar |
Banara/kua |
Banara/kua |
Kognat |
|
207 |
Gemuk |
Molompo |
Molombi |
Bukan kognat |
|
208 |
Haus |
Motu'ikoledo |
Kokokondo'u |
Bukan kognat |
|
209 |
Lapar |
Moleatia |
Mokohulo/momuro |
Bukan kognat |
|
210 |
Manis |
Mensiu |
Momami |
Bukan kognat |
|
Table 11: pain
and disease |
||||
|
211 |
Sakit |
Morungku |
Morungku |
Kognat |
|
212 |
Bengkak |
Kamba |
Kamba |
Kognat |
|
Table 12: number |
||||
|
213 |
Hitung |
Doa'o |
Doa'o |
Kognat |
|
214 |
Satu |
Measa |
Measa |
Kognat |
|
215 |
Dua |
Orua |
Orua |
Kognat |
|
216 |
Tiga |
Otolu |
Otolu |
Kognat |
|
217 |
Empat |
Opaa |
Opaa |
Kognat |
|
218 |
Enam |
Onoo |
Onoo |
Kognat |
|
Table 13:
colors |
||||
|
219 |
Hitam |
Moito |
Molori |
Bukan kognat |
|
220 |
Putih |
Mopila |
Mopila |
Kognat |
|
221 |
Merah |
Motaha |
Motaha |
Kognat |
|
Table 14: time |
||||
|
222 |
Malam |
Malo |
Malo |
Kognat |
|
223 |
Tahun |
Ta'u |
Ta'u |
Kognat |
|
224 |
Hari |
Oleo |
Oleo |
Kognat |
|
225 |
Depan |
Itnotolai |
Hai ra'i |
Bukan kognat |
|
Table 14: direction |
||||
|
226 |
Kiri |
Suwa |
Suwa |
Kognat |
|
227 |
Kanan |
Moana |
Moana |
Kognat |
|
228 |
Di dalam |
Bolono |
Hailaro |
Bukan kognat |
|
229 |
Di atas |
Ataha |
Ataha |
Kognat |
|
230 |
Di bawah |
Aruane |
Aruane |
Kognat |
|
231 |
Dimana |
Dahano/maina |
Haihapa |
Bukan kognat |
|
232 |
Didepan |
Tinotolai |
Haira'i |
Bukan kognat |
|
233 |
Di luar |
Luara |
Haibungku |
Bukan kognat |
|
234 |
Pinggir |
Wiri |
Wiwi |
Bukan kognat |
|
Table 16: functional words |
||||
|
235 |
Ini |
Adii |
Di'ie |
Bukan kognat |
|
236 |
Itu |
Aico |
Peico |
Bukan kognat |
|
237 |
Apa |
Hapa |
Hapa |
Kognat |
|
238 |
Lain |
Suere |
Suere |
Kognat |
|
239 |
Semua |
Luwuno |
Luwuno |
Kognat |
|
240 |
Dan |
Hela |
Ronga |
Bukan kognat |
|
241 |
Jika/kalau |
Hiida |
Kei |
Bukan kognat |
|
242 |
Bagaimana |
Kanaumpe |
Kanaumpe |
Kognat |
|
243 |
Disitu |
Aicokeena |
Cokeena |
Bukan kognat |
|
244 |
Disana |
Apekena |
Corane |
Bukan kognat |
|
245 |
Disini |
Adiceena |
Diceena |
Bukan kognat |
|
246 |
Tidak |
Nda'a |
Naida'a |
Bukan kognat |
|
247 |
Kenapa |
Hapaico |
Mohapa |
Bukan kognat |
|
Jumlah |
Kognat |
155 |
||
|
Bukan Kognat |
92 |
|||
Tabel
tersebut menunjukkan adanya perbedaan bentuk dan makna yang cukup tinggi antara
kedua bahasa.
0 Response to "SUKU TOKOTU'A? Lexical Similarity Bahasa Moronene & Bahasa Kabaena"
Posting Komentar